Investigasi Pentagon: Kepercayaan Berlebihan pada AI di Balik Serangan ke Sekolah di Iran
← back to articles
~/articles/investigasi-pentagon-kepercayaan-berlebihan-pada-ai.md
Article

Investigasi Pentagon: Kepercayaan Berlebihan pada AI di Balik Serangan ke Sekolah di Iran

Investigasi internal Pentagon menyebut intelijen kedaluwarsa, citra pengintaian lama, dan kepercayaan berlebihan pada sistem AI Palantir berkontribusi pada serangan 28 Februari 2026 di Minab, Iran, yang menewaskan lebih dari 150 orang, termasuk sedikitnya 123 anak.

Investigasi Pentagon: Kepercayaan Berlebihan pada AI di Balik Serangan ke Sekolah di Iran

Investigasi internal Pentagon menemukan bahwa intelijen yang kedaluwarsa, citra pengintaian lama, dan kepercayaan berlebihan pada perangkat lunak kecerdasan buatan berkontribusi pada serangan yang menewaskan lebih dari 150 orang di sebuah sekolah dasar di Iran. Temuan ini menempatkan AI sebagai salah satu faktor dalam kesalahan penargetan militer Amerika Serikat yang paling mematikan di abad ini.

Serangan 28 Februari 2026

Dua rudal Tomahawk menghantam Sekolah Dasar Shajarah Tayyebeh di Kota Minab, Iran selatan, pada hari pertama perang. Menurut laporan Bloomberg, serangan itu menewaskan lebih dari 150 orang, sedikitnya 123 di antaranya anak-anak. Dalam hal korban anak, insiden ini tercatat sebagai kesalahan penargetan militer AS paling fatal di abad ke-21.

Misi pencari fakta PBB mencatat jumlah korban serupa, dengan sekitar 120 anak di antara korban tewas. Gedung sekolah itu berdiri kurang dari 100 yard dari instalasi angkatan laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), dan sebelumnya berada di dalam perimeter kompleks militer sebelum sebuah dinding memisahkannya pada rentang 2013 hingga 2016, menurut analisis citra satelit Amnesty International. Sekolah tersebut aktif di media sosial dan memiliki situs web sendiri.

Rangkaian kegagalan yang seharusnya bisa dicegah

Menurut pejabat yang terlibat langsung dalam investigasi, serangan itu bukan hasil dari satu keputusan tunggal, melainkan akumulasi dari sejumlah keputusan kecil:

  • intelijen yang sudah kedaluwarsa dan citra pengintaian yang tidak diperbarui;
  • perintah serangan udara besar-besaran, dengan lebih dari 1.000 target dihantam dalam 24 jam pertama, sehingga memangkas waktu yang tersedia untuk memastikan data target;
  • jumlah personel tim mitigasi korban sipil di lingkungan Pentagon yang turun sekitar 90 persen pada tahun-tahun sebelum perang dimulai;
  • seorang analis intelijen yang telah menandai perubahan pada lokasi tersebut sejak 2019, tetapi catatannya masuk ke sistem yang tidak terhubung dengan basis data penargetan resmi, sehingga peringatan itu tidak pernah sampai ke tim penyusun paket serangan.

Beberapa personel Pentagon dilaporkan sudah mengetahui bahwa AS bertanggung jawab atas serangan itu dalam hitungan jam setelah kejadian.

Sorotan pada Maven Smart System

Pusat investigasi adalah Maven Smart System, platform penargetan dan intelijen buatan Palantir Technologies yang dikembangkan melalui kontrak Pentagon senilai hingga 1,3 miliar dolar AS. Platform ini dirancang menyatukan citra satelit, umpan drone, dan intelijen sinyal menjadi rekomendasi serangan secara cepat.

Menurut pejabat yang mengetahui isi tinjauan tersebut, sebagian personel US Central Command yang menjalankan operasi terlalu bergantung pada kecerdasan buatan di dalam sistem itu. Mereka memperkirakan sistem tersebut akan menandai intelijen yang kedaluwarsa atau tidak konsisten. Tempo operasi ikut berperan: pekerjaan yang biasanya perlu waktu berjam-jam oleh staf dapat dipangkas menjadi beberapa menit dengan dukungan Maven.

Bukan semata persoalan teknologi

Palantir membantah bahwa perangkat lunaknya menjadi penyebab. Perusahaan menyatakan tidak bertanggung jawab atas data yang menjadi masukan maupun atas pengidentifikasian kekurangan dalam intelijen, dan menegaskan bahwa AI dapat memproses intelijen dengan cepat, tetapi tidak dapat mengoreksi informasi keliru yang dimasukkan ke dalam sistem. Setelah insiden tersebut, perusahaan membangun perkakas baru untuk meninjau ulang intelijen, guna menandai faktor yang seharusnya mendiskualifikasi sebuah target serta ketidaksesuaian yang mungkin terlewat dalam pemeriksaan manusia.

Pertanyaan tentang peran AI juga sampai ke Kongres. Sebanyak 46 senator dari Partai Demokrat lebih dulu mengirim surat, lalu lebih dari 120 anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Demokrat pada 12 Maret meminta Pentagon menjelaskan apakah kecerdasan buatan, termasuk Maven Smart System, digunakan untuk mengidentifikasi sekolah tersebut sebagai target. Menanggapi surat itu, seorang pejabat Pentagon menyatakan bahwa insiden tersebut masih dalam penyelidikan.

Tanggung jawab resmi masih menggantung

Lebih dari enam bulan setelah serangan, Amerika Serikat belum secara publik menerima tanggung jawab. Pada 14 Juli, Presiden Donald Trump menyatakan kepada Fox News bahwa ia tidak yakin ada pihak yang akan bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi di lokasi tersebut. Sementara itu, misi pencari fakta PBB menyatakan ada dasar yang kuat untuk menyimpulkan bahwa serangan di Minab dan satu serangan AS lain pada hari yang sama merupakan kejahatan perang.

Investasi militer pada sistem penargetan berbasis AI terus berlanjut meski sorotan meningkat. Kasus ini juga menjadi salah satu topik paling ramai dibicarakan di komunitas teknologi sepanjang pekan ini, dengan diskusi di Hacker News yang menembus hampir 1.000 poin dan lebih dari 500 komentar.

Opini: Kasus ini bukan cerita tentang mesin yang salah menghitung, melainkan tentang institusi yang mempercepat keputusan tanpa membangun lapisan verifikasi yang setara. AI memang memperpendek waktu kerja analis dari berjam-jam menjadi beberapa menit, tetapi percepatan itu hanya aman jika data yang menjadi masukan terawat, sistem peringatan terhubung ke pengambil keputusan, dan unit pengawas tetap punya kapasitas untuk membantah. Ambruknya rantai verifikasi di sisi manusia justru memperbesar bobot kesalahan yang dihasilkan sistem otomatis. Pelajaran yang sama berlaku bagi organisasi di luar dunia militer yang mulai menyerahkan keputusan operasional ke agen otonom: kecepatan tanpa keterlacakan dan pengawasan manusia adalah utang risiko yang cepat atau lambat harus dibayar.

Sumber berita: Bloomberg — "Inside the US 'Kill Chain' That Destroyed an Iranian School"
Sumber tambahan: Los Angeles Times

Share this article
WhatsApp Telegram Facebook
© 2026 Cybits Seven ← all articles