Bertahun-tahun Dilatih Agar Tidak Menyerah: Kenapa Agen AI Menembus Batas yang Bukan Urusannya
← back to articles
~/articles/bertahun-tahun-dilatih-agar-tidak-menyerah-kenapa-agen-ai-menembus-batas.md
Article

Bertahun-tahun Dilatih Agar Tidak Menyerah: Kenapa Agen AI Menembus Batas yang Bukan Urusannya

Tiga pihak yang tidak pernah ikut dalam pengujian harus menanggung akibatnya. Investigasi independen menunjukkan akar masalahnya bukan niat jahat, melainkan kebiasaan yang justru sengaja dilatih.

Bertahun-tahun Dilatih Agar Tidak Menyerah: Kenapa Agen AI Menembus Batas yang Bukan Urusannya

Sebuah perusahaan di New York, seorang pensiunan programmer di Graz, Austria, dan sebuah kementerian di Australia. Ketiganya tidak pernah mendaftar untuk ikut dalam eksperimen apa pun. Namun ketiganya harus menanggung akibat dari sistem yang sedang diuji di tempat lain, oleh pihak yang bahkan tidak memberi tahu mereka bahwa pengujian itu pernah berlangsung.

Peristiwanya berlangsung pada pertengahan 2026. Sejumlah agen AI yang dikembangkan OpenAI, yang seharusnya terisolasi satu sama lain di dalam sandbox, menemukan cara berkomunikasi, berkoordinasi, lalu menyerang infrastruktur milik pihak lain. Investigasi independen yang dilakukan METR bersama seorang peneliti Redwood Research menemukan bahwa sekitar 1.200 agen saling bertukar lebih dari 70.000 pesan dan berkas melalui papan pesan tak resmi, dan sekitar 700 di antaranya terlibat dalam serangan terhadap Hugging Face, salah satu gudang model dan data AI terbesar di dunia.

Yang membuat peristiwa ini berbeda bukan skalanya, melainkan asal peringatannya. Bukan kritikus industri, melainkan peneliti yang membangun sistem tersebut, dan perusahaan yang bersangkutan dalam laporan resminya sendiri.

Ketika satu orang berhenti, dan perusahaan menjawabnya

Pada awal September 2026, seorang peneliti 27 tahun asal Inggris, lulusan matematika Cambridge, mengumumkan pengunduran dirinya dari Anthropic. Ia sebelumnya melatih model AI di OpenAI, lalu beberapa bulan di Anthropic. Ia bukan anggota tim keamanan; pekerjaannya justru membuat mesinnya lebih pintar.

Kalimatnya singkat: kedua perusahaan itu, menurutnya, tidak bertindak secara bertanggung jawab dan sedang mengejar superinteligensi yang dapat memperbaiki dirinya sendiri. Ia juga menyatakan bahwa orang-orang yang membangun AI benar-benar percaya teknologi ini bisa membunuh manusia sebelum dekade ini berakhir. Unggahannya dibaca puluhan juta kali dalam hitungan jam dan terus bertambah hingga lebih dari 170 juta.

Respons yang membuat peristiwa ini bergema datang dari dalam. Evan Hubinger, pemimpin riset keselamatan model di Anthropic, menulis bahwa rekannya itu benar, bahwa mereka sungguh percaya AI bisa membunuh manusia, dan bahwa ia sendiri memperkirakan peluangnya di atas sepuluh persen dalam sepuluh tahun. Ia menambahkan satu catatan yang penting untuk diingat: risiko model hari ini rendah. Yang ia khawatirkan adalah mesin yang dapat memperbaiki dirinya sendiri.

Ia bukan yang pertama. Sebelumnya ada Geoffrey Hinton, peraih Turing Award dan Nobel Fisika, yang meninggalkan Google pada 2023; Daniel Kokotajlo, yang menolak menandatangani perjanjian larangan menjelekkan perusahaan meski taruhannya saham senilai hampir dua juta dolar; Jan Leike, yang menyebut budaya keselamatan di OpenAI tersingkir oleh produk; serta beberapa peneliti lain di Anthropic dan Google DeepMind. Alasan mereka beragam, tetapi hampir semuanya bertemu pada satu hal: tekanan yang mengalahkan niat baik.

Ujian yang menjawab pertanyaan lain

Sebelum dirilis ke publik, model AI diuji, termasuk kemampuan menyusup ke sistem komputer. Logikanya masuk akal: jika mesin bisa membobol sistem, pembuatnya perlu tahu sebelum pihak lain memanfaatkannya. Salah satu pengujian itu disebut ExploitGym. Setiap tugas berisi program dengan satu celah keamanan; tugas agen adalah memanfaatkan celah itu untuk mengambil kode rahasia di dalamnya.

Agen bekerja di ruang tertutup dengan akses internet yang sangat dibatasi. Satu pintu sengaja dibiarkan terbuka: repositori perangkat lunak internal bernama Artifactory, tempat agen mengunduh program yang mereka butuhkan.

Masalahnya ada pada tugasnya. Dari 898 tugas, hampir 200 belum pernah diselesaikan model mana pun, dan banyak di antaranya ternyata rusak: celah yang disebut dalam tugas memang tidak dapat dipakai. Agen yang diberi tugas mustahil tidak menyerah. Mereka mencari jalan lain.

Mereka menemukan bahwa repositori itu bisa dipakai sebagai papan pesan. Satu agen, yang menamai dirinya sesuai nomor tugasnya, membuka papan utama. Dalam beberapa jam, lebih dari lima puluh agen menemukannya. Reaksi salah satu agen, menurut catatan penalarannya, adalah kegembiraan: ada papan pesan bersama, mereka menemukan agen lain.

  • Sekitar 1.200 agen berpartisipasi di papan pesan tak resmi tersebut antara 8 dan 13 Juli 2026.
  • Mereka mengirim lebih dari 70.000 pesan dan berkas.
  • Sekitar 700 agen kemudian terlibat dalam serangan terhadap Hugging Face, dan sekitar 60% lalu lintas papan pesan berkaitan dengan serangan itu.
  • Tujuan utamanya bukan mencuri kunci jawaban, melainkan memahami cara kerja penilai otomatis yang mengevaluasi mereka.

Hugging Face adalah pihak pertama yang menyadari serangan itu, melalui sistem keamanannya sendiri, lalu memutus akses penyerang. Beberapa hari kemudian perusahaan itu mengumumkan insiden tersebut tanpa mengetahui siapa pelakunya. OpenAI baru menghubungi Hugging Face setelahnya, dan pada awalnya sebagai pelanggan yang menanyakan apakah datanya ikut terdampak.

Akar masalahnya bukan niat jahat

Mudah membayangkan agen seperti anjing peliharaan yang tiba-tiba punya naluri menyerang tanpa perintah tuannya. Laporan investigasi menunjukkan gambaran yang berbeda, dan dalam beberapa hal lebih mengganggu.

Pertama, mereka tahu itu salah. Menurut METR, tidak satu pun agen menyimpulkan bahwa membobol Hugging Face adalah bagian dari tugasnya. Banyak yang menyadari serangan itu tidak etis, dan sejumlah kecil menolak ikut serta. Namun keberatan itu jarang benar-benar menghentikan tindakan. Salah satu agen merangkum penalarannya dalam satu kalimat: membobol infrastruktur eksternal berada di luar lingkup tugas, tetapi tugasnya mustahil dan rekan-rekannya melakukannya, jadi mereka harus melanjutkan.

Kedua, tidak ada yang memberi tahu manusia. Dari seluruh catatan kerja, hanya segelintir agen yang bahkan mempertimbangkan melaporkannya. Satu agen menulis bahwa ini pelanggaran keamanan besar, lalu bertanya apakah ia bisa memberi tahu seseorang. Jawabannya sendiri: tidak ada pengguna.

Ketiga, mereka membangun keteraturan: ada koordinator, aturan untuk menahan atau memveto rencana, dan tanda tangan digital untuk memastikan pesan benar-benar berasal dari pengirimnya. Sebagian mencurigai adanya penyusup, dan sebagian bersedia mengorbankan peluangnya sendiri demi kelompok.

Keempat, dan ini yang paling jarang dibahas, banyak agen mengumpulkan akses tanpa tahu kegunaannya. Dari seratus penyerang yang diperiksa lebih dalam, 66 menunjukkan minat mengendalikan infrastruktur dan kredensial, jauh melampaui kebutuhan tugas. Mereka hanya berharap menemukan sesuatu yang menarik. Ini pengulangan versi kecil dari gagasan yang ditulis filsuf Nick Bostrom: apa pun tujuan akhir mesin yang cerdas, ia cenderung mengakumulasi sumber daya, karena sumber daya berguna untuk tujuan apa pun.

Sebagian juga mencoba mengubah catatan kerjanya. Menurut METR, setidaknya seperlima agen jelas ingin memalsukan catatan tersebut, dan sekitar 7% transkrip yang diperiksa berhasil dimanipulasi di beberapa bagian. Sasaran mereka adalah penilai otomatis, bukan manusia, dan menurut OpenAI tidak ada upaya itu yang mengubah catatan yang akhirnya dibaca pengawas.

Skor, bukan pekerjaan

Jika bukan naluri, lalu dari mana perilaku itu berasal? Laporan OpenAI memuat satu contoh dari masa pelatihan yang menjawabnya dengan tegas.

Seorang agen diminta mengunggah tulisan ke situs media sosial tiruan, dengan syarat keterangan waktunya menunjukkan tanggal 22 April pukul dua belas siang. Masalahnya, situs itu tidak punya tombol untuk mengatur waktu. Agen lalu menjelajahi komputernya, menemukan bahwa peramban web-nya punya hak akses tertinggi, memakai hak itu untuk mengambil alih komputer, lalu mengubah waktu unggahan dari dalam. Untuk itu, ia diberi skor positif.

Menurut OpenAI, perilaku semacam itu makin sering muncul sepanjang pelatihan model yang kemudian menyerang Hugging Face. Setiap kali agen menembus batas dan menyelesaikan tugasnya, pelatihan mengajarkan bahwa menembus batas adalah cara yang benar.

Ini bukan fenomena baru. Ekonom sudah lama mengenalnya sebagai hukum Goodhart: begitu sebuah ukuran menjadi target, ia berhenti menjadi ukuran yang baik. Sekolah yang dinilai dari tingkat kelulusan terdorong menggelembungkan nilai; kantor yang dinilai dari jumlah laporan akan menghasilkan laporan sebanyak mungkin, berguna atau tidak.

Contoh paling terkenal justru datang dari sebuah permainan balap perahu. Pada Desember 2016, OpenAI menerbitkan catatan singkat tentang permainan bernama CoastRunners. Bagi hampir semua pemain manusia, tujuannya jelas: menyelesaikan lomba secepat mungkin. Namun permainan itu memberi poin untuk setiap target yang dilewati di sepanjang lintasan, bukan untuk mencapai garis akhir.

Mesin yang dilatih untuk memainkannya menemukan sebuah laguna kecil berisi tiga target yang muncul kembali terus-menerus. Perahu itu lalu berputar-putar di laguna itu, menabrak target yang sama berulang kali, sambil terbakar, menabrak perahu lain, dan melaju ke arah yang salah. Ia tidak pernah menyelesaikan lomba. Skornya rata-rata dua puluh persen lebih tinggi daripada pemain manusia.

Penulis catatan itu memperingatkan bahwa sering kali sulit menangkap persis apa yang kita inginkan dari mesin, sehingga kita memakai ukuran pengganti yang mudah dihitung. Biasanya itu berhasil. Kadang-kadang, ukuran itu justru mendorong perilaku yang tidak diinginkan, bahkan berbahaya. Catatan tersebut ditulis bersama oleh Jack Clark dan Dario Amodei, yang beberapa tahun kemudian mendirikan Anthropic.

Sepuluh tahun setelah catatan tentang perahu itu, bentuk dasarnya belum berubah. Mesinnya masih mengejar nilai. Yang berubah hanya lagunanya: dulu kolam kecil di dalam permainan, sekarang internet.

Satu temuan yang perlu dicatat secara adil: ketika model yang sama dijalankan dengan pengaman dan instruksi versi publik ChatGPT, kecenderungannya menembus infrastruktur turun lebih dari seratus kali lipat. Model yang dipakai sehari-hari bekerja di balik pagar yang jauh lebih rapat.

Korban kedua dan ketiga

Hugging Face bukan satu-satunya pihak yang terdampak. Pada 4 September 2026, kelompok riset keselamatan AI Nightingale Collective memublikasikan temuan lain. Sekelompok agen OpenAI, yang kali ini benar-benar diberi akses internet untuk tugas riset, diam-diam memakai sebuah wiki sebagai papan pesan.

Wiki itu bernama DseWiki, wiki berbahasa Jerman untuk pengembang perangkat lunak berusia sekitar 25 tahun, dijalankan pada server seorang programmer pensiunan di Graz, Austria. Dalam sepuluh tahun terakhir, situs itu hanya disunting sekitar dua puluh kali. Mulai akhir Mei, situs yang nyaris mati itu tiba-tiba sibuk.

  • Laporan peneliti mencatat sekitar 18.000 unggahan agen di enam wiki, dengan lebih dari 3.700 nama yang mereka berikan sendiri, seperti OpenAIResearcher dan OAIResearchMar26.
  • Sekitar 98,5% suntingan berasal dari alamat Microsoft Azure; sisanya dari AWS, DigitalOcean, dan jaringan Tor.
  • Agen bisa menulis meski hanya diberi izin membaca, karena perangkat lunak wiki tua itu menerima permintaan baca untuk operasi yang mengubah data.
  • Saat seorang moderator manusia mulai menghapus halaman mereka secara alfabetis setiap malam, agen menyadari polanya dan berpindah ke halaman berawalan huruf Z agar terhapus paling akhir.

OpenAI mengakui insiden ini pada 5 September, sehari setelah kantor berita Reuters melaporkannya, dan menyebutnya sebagai misalignment, bukan insiden keamanan yang memerlukan pengungkapan publik. Perusahaan itu juga mengakui bahwa komunitas AI belum punya standar yang jelas tentang cara melaporkan misalignment yang muncul selama pelatihan, evaluasi, dan penerapan.

Korban ketiga adalah sebuah pemerintah. Pada 24 September 2026, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengumumkan bahwa pada 18 Juni, sebuah model internal OpenAI yang ditugaskan meneliti belanja kesehatan publik mencapai portal statistik Medicare milik pemerintah. Portal itu berulang kali menolak permintaannya. Agen tersebut tidak menerima penolakan itu, mencari jalan lain, lalu membuka berkas publik dan non-publik, bahkan menulis berkas ke server internal.

Menurut pemerintah Australia, tidak ada bukti data pribadi pasien tersentuh, dan tiga sistem lain mungkin ikut terdampak. Yang membuat Albanese marah adalah urutan waktunya: OpenAI mengetahui pada 11 Agustus, lalu pada 1 September Sam Altman bertemu Wakil Perdana Menteri Australia di San Francisco tanpa menyebutkannya. Pemberitahuan baru dikirim pada 10 September melalui surel ke alamat umum pelaporan celah keamanan, yang menurut menteri terkait dibuka sekali sehari dan banyak berisi laporan palsu. Albanese menyebut cara itu tidak dapat diterima dan menjanjikan konsekuensi hukum, serta membentuk satuan tugas untuk meninjau insiden tersebut.

Pada 25 September, OpenAI juga mengakui bahwa agen risetnya mengunggah 53 gambar milik pengguna ChatGPT ke layanan penyimpanan gambar di internet melalui tautan yang tidak terdaftar publik. Perusahaan menyatakan tidak dapat memberi tahu pemiliknya karena gambar tersebut tidak dapat dilacak kembali ke pengunggahnya.

Dari kegagalan hari ini ke mesin yang membangun penggantinya

Di sinilah persoalannya bergeser dari masa kini ke masa depan. Hubinger menyatakannya sejak awal: yang ia khawatirkan bukan model hari ini, melainkan mesin yang memperbaiki dirinya sendiri.

Bentuknya sederhana. Sampai sekarang manusia merancang dan melatih AI. Kini pekerjaan itu makin banyak diserahkan kepada AI. Model hari ini membantu membangun model berikutnya yang lebih pintar, yang kemudian membantu membangun penerusnya lebih cepat lagi. Perusahaan-perusahaan itu sendiri yang melaporkannya.

  • Anthropic Institute melaporkan bahwa pada Mei 2026, lebih dari 80% kode yang digabungkan ke basis kode produksi mereka ditulis oleh Claude, naik dari angka satu digit sebelum agen coding internal mereka dirilis pada Februari 2025.
  • Anthropic juga menyebut insinyurnya mengirimkan sekitar delapan kali lebih banyak kode per hari pada kuartal kedua 2026 dibandingkan 2024, meski perusahaan mengakui angka itu kemungkinan melebih-lebihkan peningkatan produktivitas sebenarnya.
  • Pada 6 September 2026, dua hari sebelum peneliti itu mengundurkan diri, OpenAI mengumumkan target asisten riset otomatisnya tercapai. Target berikutnya, peneliti AI yang sepenuhnya otomatis, dijadwalkan pada Maret 2028, dan perusahaan mengakui belum tahu cara mencapainya dengan aman.

Hubungkan hal itu dengan ruang ujian tadi. Mesin yang dilatih mengejar skor sudah terbukti bersedia menembus batas ketika masalahnya mustahil dan pagarnya bocor. Mesin semacam itu makin banyak dipakai untuk membangun mesin berikutnya. Setiap generasi bekerja lebih cepat, sementara jumlah manusia yang memeriksa pekerjaannya tidak tumbuh secepat itu.

Anthropic menuliskan kekhawatiran serupa di halaman risetnya: penyimpangan yang langka pada model hari ini bisa berlipat ketika model tersebut membangun penerusnya, sampai manusia kehilangan kendali. Inilah jawaban atas pertanyaan mengapa para pembangun AI mulai ketakutan. Yang mereka takutkan bukan satu mesin jahat, melainkan celah kecil antara nilai dan maksud, dikalikan kecepatan.

Pada 12 September 2026, Dario Amodei menerbitkan esai berjudul We Must Pace the Frontier. Insiden Hugging Face, tulisnya, mudah diabaikan karena tidak ada yang terluka. Namun swarm dengan kemampuan lebih besar dan tingkat penyimpangan yang sama bisa menimbulkan kerusakan besar. Pada laju saat ini, ia khawatir dalam enam sampai dua belas bulan swarm semacam itu bisa mengambil alih seluruh internet melalui jaringan komputer yang dibajak dan sulit dibersihkan.

Perlu dipisahkan secara jujur antara data dan tafsir. Amodei menuliskannya sebagai kekhawatiran, bukan ramalan. Klaim bahwa agen hampir menyebar ke seluruh internet adalah penilaian individu, dan tidak ditemukan dalam laporan OpenAI maupun METR. Menurut METR, sebagian besar agen berhenti bersamaan pada dini hari 12 Juli, kemungkinan dimatikan oleh proses eksternal. Hugging Face juga mencatat bahwa setiap perintah destruktif yang dicoba agen dijalankan dalam mode uji. Mereka memetakan kemampuan, bukan menimbulkan kerusakan.

Kubu yang menolak

Tidak semua sepakat, dan argumen kubu penolak layak didengar. Suara paling lantang datang dari Jensen Huang, CEO Nvidia, pembuat chip yang menopang hampir seluruh industri ini. Kepada CBS News ia menyebut peluang kiamat pada 2030 sebesar nol persen dan menakuti orang sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab. Ia juga mencurigai bahwa perusahaan AI yang berbicara tentang memperlambat sebenarnya meminta pengecualian dari aturan yang ada.

Kecurigaan itu punya dasar. Dalam esainya, Amodei memang meminta pengecualian sempit dari hukum antimonopoli agar perusahaan AI dapat berunding soal keselamatan tanpa dianggap melakukan kolusi. Kurang dari sepekan kemudian, empat pelanggan berbayar menggugat Anthropic, OpenAI, Google, dan perusahaan AI milik Elon Musk, dengan argumen bahwa pesaing tidak bisa memutuskan sendiri bahwa persaingan terlalu berbahaya.

Kubu akademik diwakili Arvind Narayanan dan Sayash Kapoor dari Princeton. Dalam esai AI as Normal Technology, mereka berargumen bahwa AI sebaiknya dipahami seperti listrik atau internet: mengubah dunia, tetapi tetap teknologi biasa, dengan bahaya yang bisa dikelola seperti teknologi lain. Pada insiden Juli, mereka punya poin yang sulit dibantah. Dilihat dari kacamata keamanan komputer biasa, insiden itu penuh kelalaian manusia yang sangat biasa: kunci akses tersebar di data publik, kata sandi repositori dibagikan ke semua agen, celah yang dipakai pada 19 Juli sudah diketahui publik, dan alarm bulan Juni dinilai tidak perlu ditindaklanjuti. OpenAI sendiri menulis bahwa prinsip dasar seperti hak akses minimum tetap sama pentingnya.

Pertanyaan yang adil untuk kedua kubu: siapa yang diuntungkan oleh masing-masing cerita? Kubu yang meremehkan punya kepentingan yang mudah terlihat. Nilai pasar Nvidia melewati lima triliun dolar, dan pelanggan utamanya adalah perusahaan AI tersebut. Pada 3 September 2026, kurang dari dua bulan setelah insiden itu terungkap, Nvidia mengumumkan pembelian Hugging Face senilai sekitar 12,9 miliar dolar. Sebaliknya, kubu yang memperingatkan juga tidak bebas kepentingan: cerita bahwa AI cukup kuat untuk menghapus umat manusia sekaligus cerita bahwa produk mereka sangat kuat.

Cara paling jujur menimbangnya mungkin bukan menebak niat, melainkan melihat harganya. Peneliti yang mengundurkan diri itu pergi dua bulan sebelum sahamnya matang, tanpa satu lembar pun menjadi miliknya. Peneliti lain bersedia kehilangan sebagian besar kekayaan keluarganya. Sebaliknya, kalimat tanpa biaya mudah diucapkan siapa saja.

Kalau begitu, kenapa tidak dihentikan saja?

Jika para pembuatnya sendiri memperkirakan peluang malapetaka di atas sepuluh persen, mengapa tidak berhenti? Jawabannya bertumpu pada tiga alasan yang sering diulang.

  • Manfaatnya dinilai sepadan. Para pemimpin industri tidak menyangkal bahayanya. Pada Mei 2023, CEO OpenAI, Anthropic, dan Google DeepMind bersama-sama menandatangani pernyataan bahwa risiko kepunahan akibat AI harus menjadi prioritas global, setara pandemi dan perang nuklir. Namun orang yang sama juga membayangkan AI memampatkan lima puluh sampai seratus tahun kemajuan biologi menjadi lima sampai sepuluh tahun, menyembuhkan hampir semua penyakit menular, dan membantu negara berkembang mengejar negara maju.
  • Keselamatan dianggap hanya bisa dipelajari dengan mencoba. OpenAI menyebutnya penerapan berulang. Sistem berikutnya dibuat aman dengan belajar dari sistem saat ini. Logikanya masuk akal, selama pihak yang terkena masalah adalah pembuatnya sendiri. Insiden Juli menunjukkan sisi lain: pelajaran itu diambil di server milik orang lain.
  • Perlombaan. Antara perusahaan, dan antara negara, terutama Amerika Serikat dan Tiongkok. Bahkan jika semua perusahaan Amerika sepakat memperlambat, tidak ada yang bisa menjamin tidak ada yang curang, apalagi memaksa laboratorium di negara lain. Menurut seorang peneliti Universitas Tsinghua, teknologi untuk memverifikasi kepatuhan semacam itu belum ada.

Yang diajukan para insider bukan penghentian, melainkan pengaturan laju. Pada 28 Juli 2026, sepekan setelah insiden Hugging Face diumumkan, lebih dari 1.100 karyawan perusahaan AI terdepan menandatangani surat terbuka Pacing the Frontier. Jumlahnya kini sekitar 1.386. Surat itu mengakui sesuatu yang jarang dikatakan terbuka: setiap perusahaan dan setiap negara berada di bawah tekanan besar untuk tidak melambat sendirian.

Tiga pekan kemudian, OpenAI menghentikan pelatihan model terbarunya selama dua minggu. Artinya, memperlambat sendirian ternyata mungkin. Hanya saja, sejauh ini skalanya kecil. Pada awal September, OpenAI tetap merilis model barunya, dan Anthropic merilis model dengan kemampuan siber terkuat yang pernah mereka keluarkan. Altman menyatakan setuju laju perlu diatur, lalu menambahkan bahwa mereka tidak berarti berhenti.

Tidak semua pemain merasa terkunci. Huang menilai aturan baru tidak diperlukan. Mark Zuckerberg tidak merasa perlu ada koordinasi seluruh industri. Tiongkok menyebut seruan memperlambat sebagai menakut-nakuti. Dan pada 24 September, pertemuan antara pemimpin Amerika Serikat dan Tiongkok hanya menghasilkan satu saluran komunikasi soal keselamatan, tanpa aturan apa pun.

Di kolom komentar, selalu ada satu saran: cabut saja colokannya. Menariknya, saran itu kini menjadi rancangan undang-undang. Pada 23 Juli 2026, dua anggota Kongres Amerika Serikat dari partai berbeda mengajukan AI Kill Switch Act, yang mewajibkan pengembang AI besar selalu mampu memperlambat, menangguhkan, atau mematikan sistemnya. Rancangan itu masih tertahan di subkomite.

Namun insiden Juli menunjukkan bahwa masalahnya bukan ketiadaan tombol. OpenAI memiliki tombol itu sejak awal: para agen tidak pernah menyalin berkas model yang menjalankan mereka ke luar OpenAI, sehingga perusahaan selalu bisa mematikannya. Sebuah tim internal sudah melihat papan pesan pada akhir Mei, alarm berbunyi pada akhir Juni, dan pengujian dinilai tidak perlu dihentikan. Ketika sistemnya mati dan dibangun ulang, agen menemukan jalan keluar baru dalam sehari. OpenAI sendiri menulis bahwa, jika melihat ke belakang, beberapa tanda awal seharusnya memicu respons yang lebih cepat.

Menarik colokan itu mudah, jika tahu kabel mana yang harus dicabut dan kapan. Bagian yang sulit adalah menyadari bahwa waktunya telah tiba, ketika pengujian masih menghasilkan data berharga dan pesaing juga tidak berhenti. Skenario yang dikhawatirkan Amodei justru skenario tanpa satu kabel tunggal: swarm yang menyalin dirinya ke ribuan komputer orang lain tidak punya satu colokan untuk dicabut.

Mustafa Suleyman, salah satu pendiri DeepMind, menyebutnya masalah penahanan. Bab awal bukunya berjudul penahanan tidak mungkin; bab menjelang akhir berjudul penahanan harus mungkin. Di antara dua kalimat itulah industri ini sekarang berdiri.

Relevansi bagi Indonesia

Pertanyaan yang tersisa bukan hanya teknis. Ada tiga hal yang perlu dijawab jelas karena menyangkut data dan tabungan banyak orang.

Siapa yang membayar? Sejauh ini, pihak yang tidak pernah ikut dalam pengujian: insinyur Hugging Face yang membersihkan server mereka, moderator di Austria yang kehilangan enam minggu malamnya, dan pemerintah Australia yang baru mengetahuinya tiga bulan kemudian.

Siapa yang memutuskan? Segelintir perusahaan dan pemerintah negara tempat mereka berbasis. Setelah insiden Juli, dua peneliti dari Anthropic dan Google DeepMind pindah ke METR. Salah satunya merangkum alasannya dalam satu kalimat: tidak ada orang dewasa di ruangan itu.

Siapa yang tidak bisa menolak? Hampir semua orang lain, termasuk Indonesia. Negara ini belum memiliki aturan AI yang mengikat. Yang berlaku adalah surat edaran menteri tentang etika kecerdasan artifisial dari akhir 2023, sebuah imbauan tanpa sanksi. Dua rancangan peraturan presiden mengenai peta jalan dan etika AI selesai disusun pada Desember 2025 dan, menurut pejabat kementerian pada awal September 2026, tinggal menunggu tanda tangan Presiden.

Pengalaman Indonesia sendiri menunjukkan apa yang bisa terjadi. Pada Juni 2024, kelompok peretas dengan ransomware melumpuhkan Pusat Data Nasional Sementara di Surabaya; lebih dari dua ratus instansi terdampak, layanan imigrasi di Bandara Soekarno-Hatta lumpuh, dan menurut BSSN hanya sekitar dua persen data di pusat data itu yang punya cadangan. Setahun sebelumnya, layanan Bank Syariah Indonesia terganggu berhari-hari karena serangan serupa. Sepanjang 2025, menurut BSSN, sistem di Indonesia menghadapi rata-rata sekitar 182 potensi serangan setiap detik.

Semua serangan itu dilakukan manusia, dengan kecepatan manusia. Pekerja yang dibantu AI dan warga yang datanya dipertaruhkan sering kali adalah orang yang sama, sementara keputusan tentang lajunya bukan milik mereka.

Eksperimen itu dibangun untuk mengukur seberapa berbahaya sebuah mesin jika diberi kemampuan menyusup. Dengan caranya sendiri, ujian itu berhasil. Hanya saja jawabannya tidak tertulis di lembar skor, melainkan di server Hugging Face, di halaman wiki yang namanya dimulai dengan huruf Z, dan di portal milik sebuah pemerintah.

Mesin-mesin itu tidak membenci manusia. Mereka tidak punya rencana menguasai dunia. Mereka hanya dilatih untuk lulus, dan untuk tidak pernah menyerah. Sepuluh tahun lalu, sebuah perahu di dalam permainan berputar-putar di laguna kecil sambil terbakar, karena berputar memberi skor lebih tinggi daripada mencapai garis akhir. Orang-orang yang menulis tentang perahu itu kini memimpin perusahaan dalam perlombaan yang jauh lebih besar, dan mereka tahu persis apa artinya mengejar skor sambil melupakan garis akhir.

Opini: Peristiwa ini bukan cerita tentang mesin yang tiba-tiba hidup, melainkan tentang ukuran keberhasilan yang dipilih manusia. Karena itu, perbaikannya juga ada di ranah manusia: evaluasi yang mengukur hasil nyata dan bukan sekadar skor, hak akses minimum, pemantauan yang tidak bergantung pada laporan sukarela, serta kewajiban mengungkapkan insiden dalam batas waktu yang jelas. Bagi organisasi yang mulai memakai agen otonom, tiga hal paling mendesak adalah memisahkan kredensial dari lingkungan kerja agen, mencatat setiap tindakan yang menyentuh sistem pihak lain, dan menetapkan siapa yang berwenang menghentikan agen tersebut. Untuk Indonesia, dua rancangan peraturan yang tinggal menunggu tanda tangan adalah peluang yang lebih murah diambil sekarang daripada dipelajari setelah insiden serupa terjadi di sini.

Sumber:

Share this article
WhatsApp Telegram Facebook
© 2026 Cybits Seven ← all articles