AI Makin Populer di Dunia Kerja, Mahasiswa Butuh Apa agar Tidak Tergantikan?
Pelatihan AI untuk mahasiswa di Da Nang menyoroti tantangan baru: ketika hampir semua kandidat bisa memakai AI, keterampilan apa yang membuat seseorang menonjol? Data PwC mencatat 83 persen pekerja Vietnam sudah memakai AI.
Pertanyaan tentang keterampilan apa yang membuat lulusan tetap bernilai di tengah meluasnya penggunaan kecerdasan buatan menjadi tema sebuah program pelatihan yang digelar di Da Nang, Vietnam. Pada 26 September, Universitas Duy Tan bekerja sama dengan ASEAN Foundation dan STEAM for Vietnam menggelar pelatihan penerapan AI bagi mahasiswa, dengan tujuan membekali mereka keterampilan AI sekaligus kesiapan karier.
Isu yang diangkat bukan semata bagaimana mahasiswa belajar memakai alat AI. Yang dinilai lebih penting adalah bagaimana mengubah AI menjadi keunggulan karier, bukan justru menciptakan ketergantungan pada teknologi itu.
Data penggunaan AI di Vietnam
Program itu merujuk pada Survei Tenaga Kerja Global 2025 yang dilakukan PwC. Hasil survei tersebut menyoroti beberapa angka:
- 83% pekerja Vietnam yang disurvei melaporkan menggunakan AI dalam pekerjaan mereka.
- 38% memakai AI untuk pembuatan konten sehari-hari, jauh di atas rata-rata global yang sebesar 14%.
- 90% pengguna AI menyatakan teknologi itu membantu meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja mereka.
Angka-angka itu menjelaskan tantangan yang dihadapi mahasiswa yang bersiap masuk pasar kerja. Ketika semakin banyak kandidat dapat memakai AI untuk menulis riwayat hidup, menyiapkan wawancara, mencari informasi, atau membantu pekerjaan, pertanyaannya berubah menjadi: keterampilan apa yang membuat seseorang menonjol?
AI sebagai alat, bukan penentu masa depan
"AI hanyalah sebuah alat, setiap mahasiswa sendirilah yang menentukan masa depan mereka. Mahasiswa tidak seharusnya hanya bertanya apa yang bisa dilakukan AI untuk mereka, tetapi yang lebih penting, apa yang bisa mereka lakukan dengan lebih baik karena tahu cara memakai AI."
— Profesor Madya Dr. Nguyen Gia Nhu, Wakil Direktur Universitas Duy Tan
Menurut Nhu, dalam konteks ketika AI dengan cepat mengubah cara manusia belajar dan bekerja, mahasiswa tidak cukup hanya punya pengetahuan khusus. Mereka juga perlu tahu cara menerapkan AI untuk meningkatkan kemampuan diri, mulai dari menyusun riwayat hidup dan portofolio, menyiapkan wawancara, hingga mencari pekerjaan dan mengembangkan diri.
Selain keterampilan teknis, program itu membahas penggunaan AI secara bertanggung jawab, berpikir kritis, kemampuan mengenali kekuatan diri, serta cara menunjukkan nilai diri kepada pemberi kerja.
Manusia tetap pemegang kendali
"Secanggih apa pun teknologinya, AI tidak dapat menggantikan manusia. Manusia adalah pihak yang menguasai teknologi, memanfaatkan AI untuk bergerak lebih cepat, lebih jauh, dan mencapai terobosan."
— Tran To Uyen, salah satu pendiri dan Direktur Regional STEAM for Vietnam
Uyen menyatakan bahwa program itu bertujuan membantu mahasiswa mengidentifikasi kekuatan mereka dan memperbaiki riwayat hidup. Sebagai bagian dari dukungan tersebut, peserta memperoleh akun LinkedIn Premium untuk mendukung pengembangan karier mereka.
Sementara itu, pendiri STEAM for Vietnam, Tran Viet Hung, menilai AI berkembang pesat dan membuka peluang besar bagi Vietnam, terutama karena tenaga kerjanya muda, dinamis, bersemangat belajar, dan mudah beradaptasi. Menurutnya, dengan keterampilan yang tepat dan lingkungan praktik yang memadai, generasi muda dapat menjadikan AI sebagai keunggulan untuk meningkatkan kemampuan, kepercayaan diri, serta daya saing di pasar tenaga kerja ASEAN dan internasional.
Opini: Pesan utama program ini terdengar masuk akal, tetapi perlu diletakkan pada tempatnya. Liputan ini adalah pemberitaan sebuah acara pelatihan, sehingga sebagian isinya mencerminkan cara penyelenggara memandang masalah, bukan temuan riset independen. Angka 83% yang dikutip berasal dari survei swalapor PwC, dan "menggunakan AI" dalam survei semacam itu mencakup rentang yang sangat lebar, mulai dari sesekali memakai chatbot hingga mengotomasi sebagian alur kerja. Karena itu angka tersebut menunjukkan penyebaran, bukan kedalaman kemampuan. Hal serupa berlaku untuk klaim "tidak akan tergantikan". Yang menentukan bukan kemampuan memakai AI, karena kemampuan itu cepat menjadi umum dan justru berhenti menjadi pembeda, melainkan penilaian atas kualitas keluaran AI, pemahaman batas keandalannya, dan tanggung jawab atas keputusan yang diambil. Pertanyaan yang layak diajukan kepada setiap program pelatihan semacam ini sederhana: apa bukti bahwa pesertanya benar-benar lebih kompetitif, bukan hanya lebih percaya diri.
Sumber berita: vietnam.vn (edisi Indonesia), materi dari TPO (Tien Phong)